Metode FOLLOW THE LINE, dikeluarkan dari pikiran imajinatif untuk kemudian diletakan di kertas yang ditulisi. Dengan melakukan metode Follow The Line sesungguhnyalah seseorang sedang membentuk “Pattern” imajiner di dalam pikirannya secara lebih mudah dan simpel, cepat dan sistematis untuk mencapai kemampuan seperti orang yang sudah bisa menulis.

Follow the Line adalah mengikuti “garis – garis” jalan yang sudah ditentukan” (baca : itba’ fii sabilii“), yang merupakan satu satunya pilihan sebagai hamba Allah SWT. Dalam hal ini manusia diberi kemerdekaan memilih untuk mengikuti atau tidak terhadap “garis” itu. Kemerdekaan memilih inilah meniscayakan kita membekali diri. Oleh karena mengikuti garis mustahil dilakukan tanpa mengerti makna “garis” yang akan di ikuti” itu. Dalam kerangka itulah manusia membutuhkan kemampuan “membaca dengan benar” dan itulah yang disebut membaca dengan cara mengatas namakan Allah SWT (baca : iqro’ bismi Robbika …“).

Allah SWT menciptakan manusia untuk dijadikan khalifah. Itu sebabnya iqro’ yang pertama adalah soal penciptaan yang metodenya pendekatan dengan mengatas-namakan DIA. Iqro’ yang kedua adalah soal kemuliaan (“iqro’ wa robbukal akrom“) dimana itu hanya mungkin diraih jika menggunakan “Qolam”. Artinya, hanya jika manusia itu mau mentransformasikan dirinya dari dimensi “penciptaan” ke dimensi “kejadiaan” dengan menggunakan “qolam” dari (Aladzii Allama bil Qolam) saja, maka kemuliaan (“Akrom”) itu baru bisa diraih. Itulah hakekat sesungguhnya dari kekhalifahan yaitu ikut serta dalam managerial Allah SWT dengan menjadi penyambung jarak antara Allah SWT dan Alam. Itulah hakekat dari menulis, berkarya atau berkreasi, yang disebut Iqro bil Qolam.

Iqro Bil Qolam

Metode Follow The Line dibuat bukan tanpa alasan, apalagi hanya sekedar eksperimen. Namun metode tersebut bergulir melalui pemikiran proses yang panjang, eksplorasi kontinyu dan panggilan hati seorang muslim yang merasa bertanggung jawab terhadap nilai – nilai islam untuk mempelajari bahasa arab apalagi belajar untuk menulis arab. Padahal huruf arab adalah bahasa al-qur’an, yaitu sebuah kitab yang sumber hukum umat manusia, khususnya umat islam.

Dengan majunya teknologi yang semakin canggih khususnya mesin cetak yang sanggup memproduksi buku secara massal, dipercaya atau tidaknya sangat berpengaruh terhadap gairah menulis. khususnya al-qur’an sehingga yang terjadi adalah :

  1. Tradisi menulis Al-Qur’an hilang
  2. Huruf arab sebagai huruf pengantar Al-Qur’an tidak menarik untuk dipelajari
  3. Banyaknya Al-Qur’an yang beredar ditengah-tengah umat tidak dengan sendirinya menjadikan umat islam dekat dengan al-qur’an

Untuk membangkitkan itu semua harus ada gerakan nyata, maka dengan semboyan “DENGAN MENULIS, SEMUA AKAN TERKENANG” kami berupaya untuk membuat terobosan dan gagasan, bagaimana Al-qur’an yang selama ini hanya dibaca karena memang pesan Al-Qur’an, tapi mulai detik ini harus ada kesadaran bahwa membudayakan menulis al-qur’an adalah sesuatu yang penting untuk membangkitkan kembali rasa cinta umat islam terhadap budaya tulis menulis, khusunya Al-qur’an.

Karena pada zaman keemasan islam ketika belum ada mesin percetakan yang canggih seperti sekarang, para ulama mengekspresikan kecintaannya dan melindungi keberadaan ilmu-ilmu yang ia cari dengan cara menulis termasuk terhadap al-qur’an. Sebagaimana sahabat ketika terjadi pembunuhan terhadap tahfidz (para penghafal Al-qur’an) di zaman rasulullah, para sahabat nabi diintruksikan untuk menulis Al-qur’an sebagai upaya melestarikan dan mencintaiNYA.

Back to top